JAMBI – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya mengganggu kualitas udara, tetapi juga berdampak pada aktivitas pendidikan dan kehidupan keluarga.

Ketika kondisi udara tidak memungkinkan anak-anak beraktivitas secara aman di luar rumah, Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) menjadi salah satu langkah penting untuk memastikan hak anak atas pendidikan tetap terpenuhi sekaligus melindungi kesehatan mereka.

Ketua Bidang Perempuan dan Keluarga (BIPEKA) DPW PKS Jambi, Lisa Nur Taufikiyah, mengapresiasi langkah penerapan PJJ sebagai bentuk kehati-hatian dalam melindungi peserta didik dari paparan udara yang tidak sehat.

Menurutnya, pendidikan anak tidak boleh berhenti hanya karena kondisi lingkungan sedang tidak bersahabat. Namun, pola pembelajaran juga perlu disesuaikan agar anak tetap mendapatkan pengalaman belajar yang optimal.

“PJJ adalah solusi agar anak tetap mendapatkan hak pendidikannya ketika kondisi udara belum aman untuk pembelajaran tatap muka. Tetapi PJJ bukan sekadar memindahkan kegiatan sekolah ke rumah. Ada peran penting orang tua untuk mendampingi, memotivasi, sekaligus membantu anak menjaga ritme belajarnya,” ujar Lisa.

Ada Sisi Positif, Tetapi PJJ Juga Memiliki Tantangan

Lisa melihat bahwa pembelajaran dari rumah dalam situasi seperti ini memiliki sejumlah sisi positif.

Anak memiliki kesempatan untuk belajar lebih dekat bersama orang tua atau anggota keluarga. Pada saat yang sama, anak juga dapat semakin terbiasa menggunakan teknologi sebagai sarana pembelajaran.

Momentum ini, menurutnya, dapat menjadi kesempatan bagi keluarga untuk membangun kembali kedekatan dan komunikasi antara orang tua dengan anak.

“Ada sisi positif yang bisa kita ambil. Orang tua menjadi lebih dekat dengan proses belajar anak, mengetahui apa yang sedang dipelajari, sekaligus mendampingi penggunaan teknologi secara lebih terarah,” jelasnya.

Namun, Lisa juga mengingatkan bahwa tidak semua keluarga memiliki kondisi yang sama. Bagi orang tua yang bekerja, misalnya, mendampingi anak sepanjang waktu tentu menjadi tantangan tersendiri.

Di sisi lain, pembelajaran secara daring juga memiliki keterbatasan. Interaksi langsung antara guru dan siswa tidak sepenuhnya dapat digantikan oleh layar. Anak dapat mengalami kesulitan memahami materi secara utuh, terutama ketika membutuhkan penjelasan langsung, diskusi, praktik, atau pendampingan khusus.

“Kita juga harus realistis. Pembelajaran tatap muka memiliki interaksi yang tidak selalu bisa digantikan oleh pembelajaran daring. Karena itu, selama PJJ berlangsung, komunikasi antara guru dan orang tua harus semakin kuat. Orang tua tidak harus menjadi guru bagi anak, tetapi menjadi pendamping yang membantu anak tetap belajar dengan baik,” ungkap Lisa.

Orang Tua Tidak Harus Sempurna, tetapi Hadir

Lisa menekankan bahwa kunci keberhasilan PJJ bukan terletak pada seberapa lama orang tua duduk mendampingi anak, tetapi pada kualitas perhatian dan komunikasi yang diberikan.

Bagi orang tua yang bekerja, pendampingan dapat disesuaikan dengan kondisi keluarga. Yang penting, anak tetap memiliki jadwal belajar, mendapatkan dukungan, dan mengetahui bahwa orang tuanya peduli terhadap proses pendidikannya.

Ia juga mengajak keluarga untuk menjadikan PJJ sebagai kesempatan membangun kebiasaan belajar yang lebih mandiri.

“Tidak semua orang tua bisa mendampingi anak dari pagi sampai siang. Itu bukan berarti mereka tidak peduli. Yang penting adalah bagaimana keluarga mengatur waktu, membangun komunikasi dengan guru, dan memastikan anak tidak merasa belajar sendirian,” katanya.

Tips Agar PJJ Tetap Efektif di Tengah Kabut Asap

Lisa membagikan beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan keluarga selama PJJ:

  1. Buat rutinitas belajar yang sederhana.
    Tentukan waktu belajar, istirahat, makan, bermain, dan tidur. Anak membutuhkan pola yang konsisten agar tetap memiliki ritme meskipun tidak pergi ke sekolah.
  2. Ciptakan ruang belajar yang nyaman.
    Tidak harus ruangan khusus. Yang penting cukup terang, tidak terlalu bising, memiliki sirkulasi yang baik sesuai kondisi udara, dan membuat anak nyaman mengikuti pembelajaran.
  3. Orang tua menjadi pendamping, bukan “guru pengganti”.
    Bantu anak memahami instruksi, tanyakan apa yang belum dipahami, dan berikan motivasi. Jika ada materi yang sulit, komunikasikan dengan guru.
  4. Berikan jeda dari layar.
    PJJ tidak berarti anak harus terus-menerus berada di depan gawai. Berikan waktu istirahat, aktivitas ringan di dalam rumah, membaca, bermain bersama keluarga, atau kegiatan kreatif lainnya.
  5. Batasi aktivitas di luar rumah ketika kualitas udara memburuk.
    Kemenkes mengingatkan bahwa paparan PM2.5 dari asap karhutla dapat mengganggu sistem pernapasan dan anak termasuk kelompok yang lebih rentan. Karena itu, keluarga perlu memantau kualitas udara dan membatasi aktivitas luar ruang ketika kondisi udara tidak sehat.
  6. Jika harus keluar rumah, gunakan perlindungan yang sesuai.
    Masker dapat membantu mengurangi paparan partikulat ketika berada di luar ruangan, tetapi efektivitasnya sangat dipengaruhi jenis dan cara penggunaan. Kemenkes juga menekankan pentingnya membatasi paparan ketika kualitas udara memburuk.
  7. Jaga kesehatan seluruh anggota keluarga.
    Pastikan kebutuhan cairan tercukupi, konsumsi makanan bergizi, istirahat cukup, dan hindari aktivitas fisik berat di luar ruangan saat udara buruk. Jika muncul keluhan kesehatan seperti gangguan pernapasan, segera konsultasikan ke fasilitas pelayanan kesehatan.

Pendidikan dan Kesehatan Harus Berjalan Bersama

Lisa menegaskan, situasi kabut asap membutuhkan kolaborasi semua pihak. Pemerintah perlu memastikan kebijakan pendidikan adaptif dan perlindungan kesehatan berjalan beriringan. Sekolah dan guru perlu menjaga komunikasi dengan orang tua, sementara keluarga memberikan pendampingan sesuai kemampuan masing-masing.

“Kita ingin anak tetap belajar, tetapi jangan sampai proses belajar justru mengorbankan kesehatan mereka. Pendidikan dan kesehatan harus berjalan bersama. Ketika kondisi udara belum aman, mari kita manfaatkan rumah bukan hanya sebagai tempat berlindung dari asap, tetapi juga sebagai ruang belajar dan ruang tumbuh anak,” tegas Lisa.

Menurutnya, keluarga juga perlu melihat masa PJJ ini bukan semata-mata sebagai tambahan beban, tetapi sebagai kesempatan untuk membangun kemandirian anak, kedekatan keluarga, literasi digital, dan kebiasaan belajar yang positif.

“Semoga kondisi ini segera membaik dan anak-anak dapat kembali belajar dengan aman dan nyaman di sekolah. Selama masa PJJ, mari kita saling menguatkan—guru, orang tua, dan anak—agar pendidikan tetap berjalan dan kesehatan keluarga tetap menjadi prioritas,” pungkas Lisa.

BIPEKA PKS Jambi — Keluarga Kuat, Anak Sehat, Pendidikan Tetap Hebat. (Rls/*)