JOGJA – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jambi mengajak sebanyak 33 jurnalis yang tergabung dalam Forum Wartawan Ekonomi Bisnis (Forweb) Jambi untuk mengunjungi Candi Borobudur di Jawa Tengah pada Sabtu (03/10/2026) pagi.

Dalam kegiatan kunjungan tersebut, rombongan jurnalis juga diajukan untuk melihat secara langsung koleksi sejarah yang tersimpan di museum Candi Borobudur.

​Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Jambi, Robby Fathir Nashary, menjelaskan bahwa tujuan utama mengajak Forweb berkunjung ke Candi Borobudur adalah untuk menggali secara langsung keterkaitan sejarah antara candi tersebut dengan Kompleks Candi Muarojambi.

Berdasarkan literatur sejarah, Candi Muarojambi di masa lampau merupakan salah satu pusat pendidikan tinggi agama Buddha yang berkembang sekitar abad ke-7.

​Berdasarkan informasi dari Prasasti Karang Berahi yang berasal dari abad ke-7, daerah Jambi atau Melayu pada masa itu telah berada dalam pengaruh kekuasaan Sriwijaya. Seorang musafir asal Tiongkok yang berkunjung ke Mo-lo-yeu atau Malayu di Jambi pada abad ke-7 bahkan mencatatkan bahwa wilayah Melayu telah menjadi bagian dari Sriwijaya.

​Kompleks Muaro Jambi pada masanya pernah berfungsi sebagai kampus besar untuk mempelajari agama Buddha. Pendeta terkemuka asal Tiongkok, Yi-jing atau I-tsing, pernah menyarankan agar seseorang belajar agama Buddha terlebih dahulu di Sumatera atau Muarojambi sebelum melanjutkan studi ke Universitas Nalanda di India yang merupakan kampus Buddha terbesar saat itu.

​Arkeolog yang meneliti Candi Muaro Jambi, Dr. Agus Widiatmoko, mengungkapkan bahwa pada masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya sekitar abad ke-8, kerajaan ini bahkan mengutus para mahasiswa untuk belajar ke Universitas Nalanda. Kala itu, Sriwijaya dilaporkan membangun sebanyak 2.000 kamar serta satu perpustakaan khusus untuk menunjang para mahasiswa asal Nusantara yang menimba ilmu di India.

​Seiring berjalannya waktu, ketika pusat ajaran Buddha di India mengalami kehancuran akibat invasi dari negara lain, aktivitas keilmuan dari Universitas Nalanda diperkirakan berpindah ke Sumatera atau Muarojambi. Para lulusan dari pusat pendidikan Muarojambi tersebut kemudian tercatat melakukan reformasi keagamaan hingga ke wilayah Tibet.

​Robby Fathir Nashary berharap dari kunjungan ini rekan-rekan jurnalis dapat merangkai cerita serta membangun narasi yang mendalam mengenai konektivitas sejarah. Narasi tersebut diharapkan mampu menghubungkan peninggalan agama Buddha di Jawa Tengah dengan warisan sejarah yang tersimpan di Candi Muarojambi, Jambi.

​Lebih lanjut, keterkaitan sejarah ini dapat dikemas menjadi sebuah cerita atau storytelling yang elok dan menarik bagi wisatawan. Hal ini diyakini akan mendatangkan keuntungan timbal balik bagi kedua belah pihak, baik bagi sektor pariwisata di Yogyakarta maupun di Provinsi Jambi.

​Robby menambahkan bahwa posisi Jambi yang belum memiliki bandara internasional menjadi tantangan tersendiri dalam mendatangkan wisatawan mancanegara secara langsung. Oleh karena itu, menjalin kemitraan pariwisata dengan Yogyakarta sebagai salah satu gerbang utama pariwisata nasional akan sangat menguntungkan bagi pengembangan pariwisata di Jambi.

​Bukti konkret lain mengenai keterkaitan antarwilayah tersebut adalah ditemukannya artefak Makara berbahan batu andesit yang menempel di pintu gerbang Candi Kedaton, Muarojambi. Penemuan ini dinilai sangat istimewa mengingat wilayah Jambi secara geografis tidak menghasilkan batuan andesit, sementara struktur utama Candi Muarojambi seluruhnya terbuat dari batu bata merah.

​Keberadaan batu andesit tersebut mengindikasikan bahwa pada masa lalu terdapat figur sangat dihormati atau maha guru di Candi Muarojambi yang menjadi pusat pendidikan penting. Para pengunjung atau tokoh penting yang datang ke sana membawa batu tersebut sebagai bentuk penghormatan kepada sang guru besar.

​Sebagai pusat ajaran Buddha yang lebih dulu eksis di jalur perdagangan Sumatra pada era Sriwijaya-Melayu, Kompleks Muaro Jambi diyakini turut menyumbang model tata ruang mandala. Arsitektur dan acuan keagamaan dari Jambi ini menginspirasi dinasti-dinasti pembangun monumen Buddha di Nusantara, termasuk Wangsa Syailendra yang membangun Borobudur pada abad ke-8.

​Robby juga melontarkan pertanyaan reflektif mengenai teknologi arsitektur Candi Borobudur yang sangat megah dan canggih. Menurutnya, mustahil bangunan megah tersebut didirikan tanpa adanya landasan ilmu pengetahuan yang matang, di mana para perancangnya pasti belajar dari pusat penyebaran agama Buddha terbesar pada masanya.

​Benang merah tata letak serta desain Candi Borobudur juga diperkuat oleh jalur transmisi ajaran Buddha yang memiliki kaitan dengan Tibet dan Muarojambi jauh sebelum Borobudur berdiri. Guru agama terkemuka di Candi Muarojambi, yakni Dharma Kirti, memiliki murid bernama Atisha Dipamkara Srijnana yang kemudian menyebarkan ajaran Buddha, yang ilmunya turut diserap dalam perancangan candi-candi di Nusantara.

​Penjelasan senada juga disampaikan oleh Dayat, seorang storyteller di museum Candi Borobudur. Menutup rangkaian kunjungan edukatif tersebut, Dayat menegaskan bahwa masyarakat Indonesia harus merasa bangga karena peradaban tinggi di Nusantara sudah eksis di Muarojambi sejak abad ke-5. (Kho/*)