JAMBI – Gedung baru Kantor Cabang Utama (KCU) Bank Jambi di kawasan Simpang BI, Telanaipura, tak cukup dinilai dari kemegahan bangunannya. Pengamat perbankan Laila Farhat, S.E., M.M., mengatakan fasilitas baru itu semestinya menjadi penanda peningkatan pelayanan, tata kelola, teknologi, dan kualitas sumber daya manusia.
Menurut Laila, kantor utama sebuah bank bukan sekadar tempat transaksi. Gedung tersebut merupakan bagian dari wajah institusi yang ikut membentuk persepsi nasabah terhadap profesionalisme dan kredibilitas bank.
“Dalam industri perbankan, kepercayaan publik merupakan fondasi utama. Karena itu, ketika sebuah bank melakukan penguatan infrastruktur, hal tersebut dapat menjadi sinyal bahwa institusi tersebut terus berkembang dan memiliki visi jangka panjang,” ujar Laila, Selasa (01/09/2026).
Ia mengatakan persepsi terhadap sebuah bank dibentuk dari banyak hal. Kondisi kantor menjadi salah satu bagian yang terlihat langsung oleh nasabah, terutama ketika mereka membutuhkan layanan yang bersifat konsultatif atau menyelesaikan persoalan yang tidak dapat ditangani melalui layanan digital.
Karena itu, kata Laila, gedung yang modern dan nyaman harus diikuti pelayanan yang cepat, aman, serta ditopang sumber daya manusia yang kompeten.
“Bangunan yang baik harus berjalan bersama dengan pelayanan yang baik. Kalau fasilitasnya modern tetapi pelayanan tidak mengalami peningkatan, tentu dampaknya terhadap persepsi nasabah tidak akan maksimal,” katanya.
Laila juga menilai persaingan industri perbankan membuat pengalaman nasabah semakin menentukan. Masyarakat kini tidak hanya mempertimbangkan produk, suku bunga, atau biaya administrasi ketika memilih bank.
Kenyamanan, kemudahan akses, keamanan transaksi, respons petugas, hingga reputas perusahaan ikut menjadi pertimbangan.
‘Nasabah sekarang semakin kritis. Mereka menilai bank secara menyeluruh, mulai dari produk, pelayanan, keamanan, aksesibilitas sampai bagaimana institusi tersebut membangun citranya,’ ujar dia
Menurut Laila, kehadiran gedung baru juga dapat menjadi kesempatan bagi Bank Jambi untuk mempertemukan layanan perbankan konvensional dengan ekosistem digital.
Digitalisasi, menurut dia, tidak berarti menghilangkan peran kantor cabang. Kedua model pelayanan justru dapat saling melengkapi.
”Kantor cabang tetap penting, terutama untuk layanan yang membutuhkan konsultasi, penyelesaian persoalan yang kompleks maupun membangun hubungan langsung dengan nasabah. Digitalisasi dan ayanan fisik seharusnya saling memperkuat,” katanya.
Dari sisi bisnis, peningkatan fasilitas dari pelayanan juga dapat berdampak pada kepercayaan masyarakat untuk menyimpan dana maupun menggunakan produk Bank Jambi.
Jika persepsi terhadap kredibilitas bank menguat, kata Laila, peluang memperluas pasis nasabah dan menghimpun dana pihak ketiga (DPK) turut terbuka. Kondisi itu pada akhirnya dapat memperbesar ruang ekspansi kredit.
“Ketika masyarakat melihat adanya investasi yang berkelanjutan pada fasilitas, teknologi dan pelayanan, maka persepsi terhadap prospek dan keseriusan bank dalam berkembang juga akan semakin positif,” ujarnya.
Namun, Laila mengingatkan agar gedung baru tidak berhenti sebagai simbol fisik perubahan. Investasi tersebut harus terlihat dalam pengalaman nasabah ketika berinteraksi dengan bank.
“Gedung baru jangan hanya dilihat sebagai bangunan. Ia harus menjadi representasi dari profesionalisme, kualitas SDM, tata kelola, keamanan dan komitmen bank dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” kata dia.
Ia optimistis gedung baru KCU Bank Jambi dapat menjadi salah satu penanda transformasi bank pembangunan daerah itu menuju institusi yang lebih modern dan kompetitif.
Meski demikian, Laila menegaskan kekuatan merek sebuah bank pada akhirnya tidak ditentukan oleh gedung yang megah.
“Brand yang kuat dibangun dari kepercayaan. Kalau kehadiran infrastruktur baru diikuti peningkatan kualitas pelayanan, kinerja dan tata kelola, maka kepercayaan masyarakat terhadap Bank Jambi juga akan semakin kokoh,” ujarnya. (Rls/*)



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.